Tuesday, November 08, 2016

Secangkir kopi untuk mediasi

Malam-malam ini terasa sedikit kosong

Usia tidak lagi muda, jiwa seakan menolak untuk menjadi tua

Entah apa dirasa seperti itulah tercipta ketika si pujangga bicara
Gue ngga mau larut dalam ke sia-siaan
Sungguh malam ini terasa sepi, syukurlah imajinasi dan mimpi larut dalam kopi, cukup panas seperti ambisi, waktu begitu singkat mampu membuat secangkir kopi ini menjadi hangat,
Sangat hebat padahal sudah di tutup rapat
Ruangan yang besarnya 8 x 8 m2 juga ngga begitu dingin hanya ada sebuah kipas angin
Udara sepoi-sepoi seperti udara pagi, gue ngga bisa membenci jika itu memang telah terjadi

Setiap malam larut dalam diam, mata sedikit layu tolong bantu gue butuh stimulan yang bisa menstabilkan sesuatu pikiran. Sepertinya saat ini gue haus akan pendidikan, sepertinya secangkir kopi sebagai mediasi yang cocok untuk wadah mediasi tepat di sebelah kiri mesin ketik ini.
Ahh hauus *seruput perlahan*

Wahai kopi saat ini gue gelisah dengan memilih Perguruan tinggi, tahun lalu gue ditolak rasanya pahit sekali seperti meminum kau tanpa gula, saat ini aku minum kau dengan gula namun secukupnya saja, terlalu berlebihan sepertinya ngga baik bagi kesehatan. Diabetes nyatanya bisa bikin kantong tipis, "sudah cukup!"

Bermimpi bisa bersekolah di tempat para pempin negeri ini, dimana dia tidak jauh dari kota gue lahir (Jakarta) dan tinggal (Bekasi mepet kali), dia tepat di Bandung Institut Teknologi Bandung namanya, sangat tersohor di negeri bumi pertiwi ini, sudah banyak pemimpin-pemimpin tangguh terlahir, gue sebutkan saja Soekarno, Moh, Hatta, Habbie, dan masih banyak lagi. Sepertinya gue ngga bisa menghiraukan mimpi ini, gue bisa termasuk sebagian dari mereka, sepertinya jangan terlalu banyak bercerita saat ini.
Mungkin sekarang hanya butuh pernyataan kalimat afirmasi
*maybe yes maybe true*

Wahai kopi kau sudah dingin lagi, baru di tingal 10 menit pergi

Wednesday, September 14, 2016

Matinya Petani Di Desa Sendiri

Take By ; Dahlia Rera Oktanesia

Kemiskinan di desa tidak akan hilang 
Jika petani-nya terpaksa bercocok tanam
Kemiskinan akan berubah
jika tengkulak-nya adil semua

Hak petani dirampas habis
Kejujuran tengkulak sangat tipis
Masyarakat sudah tidak lagi kritis
Masyarakat menjadi konsumtif pragmatis

Apa yang lebih puitis?
Desa menjadi muara kota
Kota bersemayam dalam diam
Desa menjadi sepi perhatian
Lantas bagaimana nasib si kaum urban
Berjuta wajah masam dari keramaian

Atas dasar kebutuhan tanah berubah menjadi rumah-rumah mewah
Seperti di negeri dongeng yang jauh di antah-berantah
Tembok berpasak tebal menghunus nadi petani
Jalan panjang berlapis aspal tebal
Petani sedih, benih-benih enggan tumbuh
Petani merugi, mencari tempat sembunyi

Friday, July 01, 2016

Telaga Mesra

Malam gelap dan lembap
Rintik hujan masih terjadi
Sampai fajar berganti
Wahai diri cepatlah mengerti

Hari ini, lusa atau nanti
Cepatlah kembali

Batu dan krikil-krikil tajam ini
Jangan melangkah dalam diam
Lubang-lubang kecil tersembunyi
Dibalik genangan-genangan

Sekali lagi, rindu bicara soal nestapa
Bukan rahasia dikalangan remaja
Hidup tidak selalu bicara soal cinta
Bahagia itu sederhana, ketika
Mentafsir arti bersama

Embun-embun itu turun
Membasahi setiap lahan tak bertuhan
Tidak berhenti sampai disini
Air mengalir sampai ke ujung dasar-dasar sungai
Tak ada yang tahu pasti
Bagi setiap yang menikmati
Pasti mengerti bagaimana ini bisa terjadi