Saturday, December 31, 2016

Kerasnya Kayu Berisi



Saya ingin katakan sekarang berpetualang bukan hanya untuk bersenang-senang, lebih dari itu. Saya ingin merefleksikan diri pada alam, saya setuju manusia lebih baik dihajar oleh alam itu sendiri atau lebih dari manusia bebas menghakimi, saya begitu heran kepada orang begitu pragmatis pemikirannya, membangun karakter seseorang dengan metode kontak fisik. Metode-metode yang aneh dalam Andragogi semacam ini. 

"Manusia perlu dibina atau di binasakan?"
Kita bisa melihat pohon dipukul dan dipalu pohon masih tetap hidup tapi hanya sekedar hidup, setelah itu mati. 
Menghadapi soal keberanian dan panggilan-panggilan tentang hidup seolah saya terus bertanya pada diri ini, mengapa banyak orang yang masih menerima diri-nya di kontrol oleh manusia lain. Kalau begitu orang-orang seperti ini akan tenggelam-kedalam-samudra yang dalam, sungguh menyedihkan rasanya hidup seperti ini sangat tidak--nyaman. 

Saya bersamamu orang-orang malang, dan penderitaan.
Saya bersamamu melawan kepongahan tentang hidup
Saya tidak bisa lagi mati meski di caci
Terus terang, saya tidak bisa tenang atas adanya kesewenang-wenangan

Saya ingin menempuh jalan hidup-ku sendiri walau tak satu orang pun tahu, kebebasan-kah, kesehatan-kah, atau pelbagai rupa lainnya. Terkadang saya pernah berfikir ingin menjadi apakah saya. Menjadi seorang idealis atau realis. Atau menjadi keduanya?

Pada saat ini saya mulai membangun kalimat afirmasi dalam hidup, saya tekan-kan pada diri sendiri, saya bisa ber-idealis sampai batas-batas nafas saya berakhir. Dan mengutarakan keadaan dengan realistis ketika manusia sudah mulai lupa dengan kebenaran dan apatis akan sekitar.

Cemara-cemara hijau dan pucat
Wajah murung di balik kabut
Lembut namun sayu
Dinginnya malam di balik api unggun
Hangat namun haru

Tuesday, November 15, 2016

MUDANESIA

MUDANESIA BEKASI
Bulan September 2016 
Sedang terjadi kebakaran hebat di Kalimantan Tengah, dampak asap sampai negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura. Malam itu pun Eky dan Agung mengajak saya berdiskusi "apa yang terjadi?" "apa kita bisa tangani?" eky berkata kepada kami, kita sebagai masyrakat Indonesia bukan lagi untuk melawan asap, lebih dari itu kita hanya memperjuangkan hak masyrakat untuk menghirup (oksigen) bukan asap. 

Langsung saja Eky membentuk sebuah sekumpulan kegiatan yang isinya anak muda, lulusan kelas menengah atas "Mudanesia" namanya unik juga, awal tujuannya hanya untuk membantu masyarakat Indonesia yang terkena musibah saja "musibah seperti apa hati bergumam", sedikit naif memang jika hanya diam tanpa ada realisasi. Dalam menangani masalah ini Mudanesia mengajak sebagian komunitas Bekasi untuk turun aksi dalam menanggapi masalah ini. Cara terbaik dalam hidup itu merubah diri sendiri, kemudian peduli dan terus berbagi. Ini lebih baik dari apatis.


Tuesday, November 08, 2016

Secangkir kopi untuk mediasi

Malam-malam ini terasa sedikit kosong

Usia tidak lagi muda, jiwa seakan menolak untuk menjadi tua

Entah apa dirasa seperti itulah tercipta ketika si pujangga bicara
Gue ngga mau larut dalam ke sia-siaan
Sungguh malam ini terasa sepi, syukurlah imajinasi dan mimpi larut dalam kopi, cukup panas seperti ambisi, waktu begitu singkat mampu membuat secangkir kopi ini menjadi hangat,
Sangat hebat padahal sudah di tutup rapat
Ruangan yang besarnya 8 x 8 m2 juga ngga begitu dingin hanya ada sebuah kipas angin
Udara sepoi-sepoi seperti udara pagi, gue ngga bisa membenci jika itu memang telah terjadi

Setiap malam larut dalam diam, mata sedikit layu tolong bantu gue butuh stimulan yang bisa menstabilkan sesuatu pikiran. Sepertinya saat ini gue haus akan pendidikan, sepertinya secangkir kopi sebagai mediasi yang cocok untuk wadah mediasi tepat di sebelah kiri mesin ketik ini.
Ahh hauus *seruput perlahan*

Wahai kopi saat ini gue gelisah dengan memilih Perguruan tinggi, tahun lalu gue ditolak rasanya pahit sekali seperti meminum kau tanpa gula, saat ini aku minum kau dengan gula namun secukupnya saja, terlalu berlebihan sepertinya ngga baik bagi kesehatan. Diabetes nyatanya bisa bikin kantong tipis, "sudah cukup!"

Bermimpi bisa bersekolah di tempat para pempin negeri ini, dimana dia tidak jauh dari kota gue lahir (Jakarta) dan tinggal (Bekasi mepet kali), dia tepat di Bandung Institut Teknologi Bandung namanya, sangat tersohor di negeri bumi pertiwi ini, sudah banyak pemimpin-pemimpin tangguh terlahir, gue sebutkan saja Soekarno, Moh, Hatta, Habbie, dan masih banyak lagi. Sepertinya gue ngga bisa menghiraukan mimpi ini, gue bisa termasuk sebagian dari mereka, sepertinya jangan terlalu banyak bercerita saat ini.
Mungkin sekarang hanya butuh pernyataan kalimat afirmasi
*maybe yes maybe true*

Wahai kopi kau sudah dingin lagi, baru di tingal 10 menit pergi