Monday, December 31, 2018

Belum Usai

Januari

Seteguk cangkir air hangat
Satu sendok teh gula pasir saya tuangkan kedalam
Sudah mulai dingin
Minuman itu tidak kunjung saya minum

Saya hampir tenggelam
Malamnya saya bangun
Diselamatkan Tuhan
Minuman saya berserakan

Sunday, June 17, 2018

BERSEDEKAP DALAM GELAP

Matahari bersinar dari timur pesisir barat bukit barisan pekon (desa) Pahmungan shelter - tempat camp yang kami dirikan ini sangat terasa teduh karena dikelilingi pohon damar, saya mendengar sahutan lolongan kera hutan mereka mencoba menarik perhatian pasangaanya untuk meminta kawin, kera dewasa turun dari dahan pohon ke tepi sungai, anak-anak dari kera itu menunggu di atas pohon, kawanan kera lain memantau dari ketinggian. Tidak tahu pasti siapa ketua kelompok itu, saya mendekat tepi sungai kera-kera itu loncat dari dahan ke dahan lain pergi menjauh. Seekor tupai sibuk mengais biji-biji buah jatuh dari pohon, tupai itu kecil dan lucu ingin sekali memilikinya, tapi jangan ia lebih layak hidup di tempat seperti ini, penuh dengan makanan dan keluarganya pasti akan mencari kalau dia pergi. Tentu kalau kamu pergi tanpa pamit pasti dicari. Beberapa hari tidak berkontak dengan orang di sekretariat karena minim signal, banyak yang ingin di ceritakan dalam pengembaraan, “Lelah pasti semangat terus!” sering sekali saya ucapkan kepada rekan-rekan sebelum melakukan pengembaraan, melihat dinamika yang terjadi saya mencari cara bagaimana kegiatan ini menjadi wahana belajar yang seru, asik, dan tidak membosankan.

“Woy bangun, siap-siap udah jam berapa ini gunain wearpack pribadi lu inget penelusuran belom memenuhi target” dengan rewelnya Aulia sebagai ketua Tim Penelusuran untuk mengingatkan seluruh tim agar terus tetap bergerak dan beranjak dari sleeping bag dan matras hangatnya. Sebab pagi sudah terlihat jelas, cahaya matahari memantul dari aliran sungai way ngison linuk yang mengalir, kami bersama tim mulai bergegas memakai seragam yang perlahan mulai mengusang dari lumpur-lumpur gua, Dian, Sarita, dan Indra sibuk menyediakan sarapan pagi dan perbekalan untuk penelusuran hari ini. Hamdan dan Suban mempersiapkan juga mendata perlengkapan penulusuran satu persatu alat sibuk diperhatikannya dengan baik, Hamdan mulai teliti dan rewel pada alat yang dibawanya atau mungkin sudah menjadi tanggung jawab seorang perkap. Saya asik memainkan alat dokumuntasi hasil pinjaman, sekarang saya bingung karena ada embun di dalam lensa, hari ini saya menjadi leader penulusuran hasil brifing tadi malam, kegiatan rutin sebelum penulusuran tubuh selalu melakukan exercise / peregangan "Gerak-gerak woi, dari kiri ke kanan pergerakan dinamis ucap Dian sang pengompol.

Masyarakat pekon Pahmungan turun ke repong dengan tas rotan di punggungnya, sedikit bincang-bincang tentang repong (kebun). “Bapak berkebun apa aja disini?” tanya pada bapak “Merepong getah damar, petai, buah, dll” jawab si bapak “Haa?!! Buah apa itu pak? ngga ada bentuk fisiknya?” pertanyaan terkejut itu keluar dar mulut saya “Kalo musim buah biasanya repong di penuhi buah duku, durian, coklat tapi bulan ini bukan musimnya, saat musim peralihan seperti perpindahan kemarau ke musim hujan nanti bunga-bunga akan tumbuh dan berbuahlah” sayang kami datang bukan diwaktu yang tepat.

Butuh waktu 35 menit berjalan ke entrance Gua Buyung dari camp kami dirikan, dalam shlter tersisa 2 anggota Dian dan Sarita sebagai tim darat. Tim melanjutkan pemetaan dari stasiun ke 13 cabang utama gua buyung saya dan suban berjalan lebih dulu untuk menentukan tiap stasiun yang akan di petakan berikutnya, lamban namun teliti sang stasioner (suban) dan shooter (Indra) menghitung dan membidik setiap ruang-ruang gua yang telah di lalui. Aulia sibuk menulis data gua, Ade dan Evi mulai piawai untuk menggambar kelihatanya usai dari penulusuran mereka berdua bisa jadi seorang pelukis yang absurd. Pasalnya mereka berdua sibuk berdebat “ternyata gambar gue rapih, dari punya lu ya dee...” celetuk Evi sudah mulai bisa ngecengin “Yee sembarangan loo.. Gambar gue justru lebih bagus, apaan gambar lu udeh kaya tumpukan goano” timpal Ade sambil menggetokan marker ke papan berjalan yang ia pegang.

Stasiun berikutnya tim menemukan air terjun dalam gua, sedikit ambil dokumentasi setelah berjalan lebih dulu saya lupa bilang cahaya headlamp jangan sampai mengenai dinding gua nanti bisa membangunkan kerumunan kelelawar yang sedang asik tertidur, dengan sengaja Ade mengadahkan cahaya ke langit-langit gua, dengan cepat kelelawar terbang kesana kemari dengan cekikikan suaranya yang khas itu, tidak sedikit kelelawar dan burung walet meninggalkan sangkar dari tidurnya, keadaan gua berubah menjadi hiburan bagi rekan-rekan penelusuran wajah-wajah panik mulai terlihat jelas “Apaa-apaan ini, gilaa, parno banget gue..” suban mulai terlihat takut dengan ribuan kelelawar yang sedang terbang, lalu bisa-bisanya Hamdan tertawa datar dan senyum tipis melihat akan hal itu, hamdan teriak, “Hab let’s take me a picture dokumentasi gue lagi begini dong!” Waktu itu di chamber penuh kelelawar sedang terbang, sambil memberikan kamera pocket pada saya “Biar gambar keliatan mistis dan angker, jangan lupa keliatan kelelawar..” tanpa sadar saya malah mengikuti permintaan Hamdan.

Mapping terakhir di Gua buyyung, Iko sedang mengukur luas dari jarak stasioner dan shotter.


Sunday, March 04, 2018

Norma bukan Dogma


Jakarta, 04 Maret 2018


Norma-norma yang tumbuh hari ini merupakan teguran lembut dari masyarakat, dengan penuh syarat untuk mencapai perilaku manusia yang luhur dan patuh terhadap Tuhan. Sebagai manusia yang beragama dan berbudaya saya perlu mengikuti norma, karena norma bukan sekedar dogma untuk hidup. Dalam waktu dekat saya  mengikuti aturan tentang hidup, untuk menjaga toleransi antar ras, suku, dan budaya. Hanya perlu memahami dan meyakini apa yang terjadi tidak cukup, sebagai manusia yang memiliki akal pikir saya perlu memperbaikinya dengan berpikir ideal dan sesuai dengan kejadian saat ini. Saya sadar banyaknya toleransi yang tumbuh, semakin banyak yang berpikir membelok.

Akan tiba pada suatu hari yang tidak biasa, seluruh umat di dunia berkumpul bersama untuk menjujung tinggi nilai-nilai perdamaian. Menolak keras adanya penindasan, pemerasan, pembodohan, perbudakan atas nama apapun untuk kepentingan golongan-golongan tertentu. “Apakah dengan peristiwa – peristiwa di atas manusia dapat hidup berdampingan?” Sekarang hanya pada Tuhan saya berharap, untuk kelangsungan hidup yang lebih baik.

Saya dapat melihat keabadian apabila manusia itu telah mati, karena mereka telah tenang dengan tempat peristirahatan terakhirnya. Saya hanya padamu dengan kasih sayang dan keberanian melawan kesewenangan hidup.