Matahari bersinar dari timur pesisir barat
bukit barisan pekon (desa) Pahmungan shelter - tempat
camp yang kami dirikan ini sangat terasa teduh karena dikelilingi pohon damar, saya mendengar sahutan lolongan kera hutan mereka
mencoba menarik perhatian pasangaanya untuk meminta kawin, kera dewasa turun dari dahan
pohon ke tepi sungai, anak-anak dari kera itu menunggu di atas pohon, kawanan kera lain memantau dari ketinggian. Tidak tahu
pasti siapa ketua kelompok itu, saya
mendekat tepi sungai kera-kera itu loncat dari dahan ke
dahan lain pergi menjauh. Seekor tupai sibuk mengais biji-biji buah jatuh
dari pohon, tupai itu kecil dan lucu ingin sekali memilikinya, tapi jangan ia lebih layak hidup di tempat seperti ini, penuh dengan makanan dan keluarganya pasti akan mencari kalau dia pergi. Tentu kalau kamu
pergi tanpa pamit pasti dicari. Beberapa hari tidak berkontak dengan orang
di sekretariat karena minim signal, banyak yang ingin di ceritakan dalam pengembaraan,
“Lelah pasti semangat terus!” sering sekali saya ucapkan kepada rekan-rekan sebelum
melakukan pengembaraan, melihat dinamika yang terjadi saya mencari cara
bagaimana kegiatan ini menjadi wahana belajar yang seru, asik, dan tidak membosankan.
“Woy bangun,
siap-siap udah jam berapa ini gunain wearpack pribadi lu inget penelusuran belom
memenuhi target” dengan rewelnya Aulia sebagai ketua Tim Penelusuran untuk
mengingatkan seluruh tim agar terus tetap bergerak dan beranjak dari sleeping
bag dan matras hangatnya. Sebab pagi sudah terlihat jelas, cahaya matahari memantul dari aliran
sungai way ngison linuk yang mengalir, kami bersama tim mulai bergegas memakai seragam yang perlahan mulai
mengusang dari lumpur-lumpur gua, Dian, Sarita, dan Indra sibuk menyediakan
sarapan pagi dan perbekalan untuk penelusuran hari ini. Hamdan dan Suban mempersiapkan juga mendata
perlengkapan penulusuran satu
persatu alat sibuk
diperhatikannya dengan baik, Hamdan mulai teliti dan rewel pada alat yang
dibawanya atau mungkin sudah menjadi tanggung jawab seorang perkap. Saya asik memainkan
alat dokumuntasi hasil pinjaman, sekarang saya bingung karena ada embun di
dalam lensa, hari ini saya
menjadi leader penulusuran hasil brifing tadi malam, kegiatan rutin sebelum penulusuran tubuh selalu melakukan
exercise / peregangan "Gerak-gerak woi, dari kiri ke kanan pergerakan dinamis” ucap Dian sang pengompol.
Masyarakat pekon Pahmungan turun ke repong
dengan tas rotan di punggungnya, sedikit bincang-bincang tentang repong (kebun). “Bapak
berkebun apa aja disini?” tanya pada bapak “Merepong getah damar, petai, buah,
dll” jawab si bapak “Haa?!! Buah apa itu pak? ngga ada bentuk fisiknya?”
pertanyaan terkejut itu keluar dar mulut saya “Kalo musim buah biasanya repong di
penuhi buah duku, durian, coklat tapi bulan ini bukan musimnya, saat musim peralihan seperti perpindahan
kemarau ke musim hujan nanti bunga-bunga akan tumbuh dan berbuahlah” sayang kami datang bukan
diwaktu yang tepat.
Butuh waktu 35 menit berjalan ke entrance Gua Buyung dari camp kami dirikan, dalam shlter tersisa
2 anggota Dian dan Sarita sebagai tim darat. Tim melanjutkan pemetaan dari stasiun ke 13 cabang
utama gua buyung saya dan
suban berjalan lebih dulu untuk menentukan tiap stasiun yang akan di petakan
berikutnya, lamban namun teliti sang stasioner (suban) dan shooter (Indra)
menghitung dan membidik setiap ruang-ruang gua yang telah di lalui. Aulia sibuk
menulis data gua, Ade dan Evi mulai piawai untuk menggambar kelihatanya usai
dari penulusuran mereka berdua bisa jadi seorang pelukis yang absurd. Pasalnya
mereka berdua sibuk berdebat “ternyata gambar gue rapih, dari punya lu ya dee...”
celetuk Evi sudah mulai bisa ngecengin “Yee sembarangan loo.. Gambar gue justru
lebih bagus, apaan gambar lu udeh kaya tumpukan goano” timpal Ade sambil
menggetokan marker ke papan berjalan yang ia pegang.
Stasiun berikutnya tim
menemukan air terjun dalam gua, sedikit ambil dokumentasi setelah berjalan
lebih dulu saya lupa bilang cahaya headlamp
jangan sampai mengenai dinding gua nanti bisa membangunkan kerumunan kelelawar
yang sedang asik tertidur, dengan sengaja Ade mengadahkan cahaya ke
langit-langit gua, dengan cepat kelelawar terbang kesana kemari dengan
cekikikan suaranya yang khas itu, tidak sedikit kelelawar dan burung walet
meninggalkan sangkar dari tidurnya, keadaan gua berubah menjadi hiburan bagi rekan-rekan
penelusuran wajah-wajah panik mulai terlihat jelas “Apaa-apaan ini, gilaa,
parno banget gue..” suban mulai terlihat takut dengan ribuan kelelawar yang
sedang terbang, lalu bisa-bisanya Hamdan tertawa datar dan senyum tipis melihat
akan hal itu, hamdan teriak, “Hab let’s
take me a picture dokumentasi gue
lagi begini dong!” Waktu itu di chamber penuh kelelawar sedang terbang, sambil
memberikan kamera pocket pada saya “Biar gambar keliatan mistis dan angker, jangan
lupa keliatan kelelawar..” tanpa sadar saya malah mengikuti permintaan Hamdan.
 |
| Mapping terakhir di Gua buyyung, Iko sedang mengukur luas dari jarak stasioner dan shotter. |