Tuesday, May 17, 2016

Merem Melek Kaum Intelek

Kebebasan berfikir adalah hak bagi setiap individu, apakah ini bersifat mutlak?
Aku rasa belum..

Aku tidak ingin disama dengankan monyet tua renta berada di atas pohon, aku hanya ingin menjadi manusia bebas yang tidak apatis.

Dalam hidup aku hanya ada 2 pilihan;
Yang pertama bebas terjebak dalam keterikatan
Yang kedua bebas berontak dalam terikat

Aku tidak ingin menjadi kedua dari model-model tersebut, aku hanya ingin bergerak bebas dalam arus sosial yang begitu dinamis dan tidak berfikir sederhana-mungkin.
Walau demikian aku hampir tenggelam dalam keputusan-keputusan, perlahan aku bangun kalimat afirmasi dalam benak. Aku sadar betul putusan tanpa kesimpulan seperti matematika tanpa hitungan, lalu bagaimana demikikian jika kesalahan selalu dibiarkan hasilnya akan selalu tetap sama pembodohan.

Hari-hari ini aku sedang bosan dengan kehidupan, atau mungkin aku yang tidak ber-etika pada hidup, sekarang aku sadar sampai kapan-pun(wajib) belajar mengenal nilai-nilai Tuhan tentang kebenaran hidup, belajar bagaimana Tuhan menciptakan sebuah kehidupan. Rasanya hidup begitu indah ketika kening menyentuh dengan sajadah, lebih dari yang aku tahu ketika manusia saling memberi tanpa harus meminta dimengerti lagi.

Belajar ikhlas dan tulus walau terdengar sedikit naif, aku mulai sadar hidup ini tidak jauh dari penilaian-penilaian orang lain, bukan demikian hidup kita bergantung pada ucapan-ucapan dan sebagainya, nyatanya kehidupan ini kita sendiri yang bangun, semoga mimpi kita sempurna dan tidak seperti orang biasa.

Ilmu bagi-ku adalah benda-benda candu
Jika kau tak tahu
Kau menjadi benda semu
Mati terbakar dan menjadi abu

Bukan begitu maksudku
Aku hanya ingin kau tahu
Ilmu jangan kau bungkam melulu

Sunday, May 01, 2016

Lahirnya Seorang Pemikir Pragmatis

Dewasa-dewasa ini aku sedikit pesimis akan menjalani sebuah kehidupan atau sudah mulai bosan dengan kebodohan, aku mulai keranjingan membaca saat ini. Selepas satu tahun dari sekolah SMA aku merasa gagal karena tidak bisa melanjutkan ke bangku kuliah, aku seperti hilang arah di bawa ke antah berantah.

Aku merasakan fatamorgana yang sangat hebat seperti bertemu dengan sang raja tanpa mahkota dan melihat rakyat-rakyatnya mati menderita oleh kepalsuan hidup.


Saturday, April 09, 2016

Elite



Wanita saat ini
Menyibukan diri dengan berpakaian dan kecantikan
Mereka tidak lepas dalam kemewahan

Cantik dan eksistensi yang aku lihat pada paras wanita-wanita ini

Heran dengan golongan wanita (sosialite) mereka berkumpul, berdiskusi tanpa ada aksi, ya terjadilah mereka dengan senda gurau semata. Mereka hidup di lingkungan kota, hanya hidup saja kurang peka atau mungkin sudah lupa begitu rupanya.
Emansipasi wanita saat ini sedikit bergeser, atau mungkin sudah lengser dengan kecantikan, kemewahan, ataupun tergoda dengan eksistensi. 

Mungkin ini yang akan terjadi ;

“Perempuan akan selalu berada di bawah tingkat laki-laki kalau begitu. Yang diurusi hanya baju dan kecantikan. Akhirnya ditendang ke dapur.”– Soe Hok Gie 

Teruntuk pada mereka yang hanya mengikuti arus zaman dan bersikap apatis terhadap sosial. Mereka yang sering di sebut wanita sosialite, sepertinya mereka mulai lupa arti kata dari Sosialite. Sosialite atau Sosialita didefinisikan sebagai seseorang yang aktif bersosialisasi, menurut dua orang penulis buku dalam Merriam-Webster sebagai penerbit pada tahun 1928.

Apa yang lebih indah dari barang-barang mewah, apabila itu tidak membawa berkah. Seharusnya wanita sosialita tidak bisa lepas dari fungsi sosialnya, bagi mereka hidupnya telah tercukupi jangan sampai putus untuk memberi jika perlu jangan berhenti. 
Ingat sadar diri itu sulit