Wednesday, September 14, 2016

Matinya Petani Di Desa Sendiri

Take By ; Dahlia Rera Oktanesia

Kemiskinan di desa tidak akan hilang 
Jika petani-nya terpaksa bercocok tanam
Kemiskinan akan berubah
jika tengkulak-nya adil semua

Hak petani dirampas habis
Kejujuran tengkulak sangat tipis
Masyarakat sudah tidak lagi kritis
Masyarakat menjadi konsumtif pragmatis

Apa yang lebih puitis?
Desa menjadi muara kota
Kota bersemayam dalam diam
Desa menjadi sepi perhatian
Lantas bagaimana nasib si kaum urban
Berjuta wajah masam dari keramaian

Atas dasar kebutuhan tanah berubah menjadi rumah-rumah mewah
Seperti di negeri dongeng yang jauh di antah-berantah
Tembok berpasak tebal menghunus nadi petani
Jalan panjang berlapis aspal tebal
Petani sedih, benih-benih enggan tumbuh
Petani merugi, mencari tempat sembunyi

Friday, July 01, 2016

Telaga Mesra

Malam gelap dan lembap
Rintik hujan masih terjadi
Sampai fajar berganti
Wahai diri cepatlah mengerti

Hari ini, lusa atau nanti
Cepatlah kembali

Batu dan krikil-krikil tajam ini
Jangan melangkah dalam diam
Lubang-lubang kecil tersembunyi
Dibalik genangan-genangan

Sekali lagi, rindu bicara soal nestapa
Bukan rahasia dikalangan remaja
Hidup tidak selalu bicara soal cinta
Bahagia itu sederhana, ketika
Mentafsir arti bersama

Embun-embun itu turun
Membasahi setiap lahan tak bertuhan
Tidak berhenti sampai disini
Air mengalir sampai ke ujung dasar-dasar sungai
Tak ada yang tahu pasti
Bagi setiap yang menikmati
Pasti mengerti bagaimana ini bisa terjadi



Tuesday, May 17, 2016

Merem Melek Kaum Intelek

Kebebasan berfikir adalah hak bagi setiap individu, apakah ini bersifat mutlak?
Aku rasa belum..

Aku tidak ingin disama dengankan monyet tua renta berada di atas pohon, aku hanya ingin menjadi manusia bebas yang tidak apatis.

Dalam hidup aku hanya ada 2 pilihan;
Yang pertama bebas terjebak dalam keterikatan
Yang kedua bebas berontak dalam terikat

Aku tidak ingin menjadi kedua dari model-model tersebut, aku hanya ingin bergerak bebas dalam arus sosial yang begitu dinamis dan tidak berfikir sederhana-mungkin.
Walau demikian aku hampir tenggelam dalam keputusan-keputusan, perlahan aku bangun kalimat afirmasi dalam benak. Aku sadar betul putusan tanpa kesimpulan seperti matematika tanpa hitungan, lalu bagaimana demikikian jika kesalahan selalu dibiarkan hasilnya akan selalu tetap sama pembodohan.

Hari-hari ini aku sedang bosan dengan kehidupan, atau mungkin aku yang tidak ber-etika pada hidup, sekarang aku sadar sampai kapan-pun(wajib) belajar mengenal nilai-nilai Tuhan tentang kebenaran hidup, belajar bagaimana Tuhan menciptakan sebuah kehidupan. Rasanya hidup begitu indah ketika kening menyentuh dengan sajadah, lebih dari yang aku tahu ketika manusia saling memberi tanpa harus meminta dimengerti lagi.

Belajar ikhlas dan tulus walau terdengar sedikit naif, aku mulai sadar hidup ini tidak jauh dari penilaian-penilaian orang lain, bukan demikian hidup kita bergantung pada ucapan-ucapan dan sebagainya, nyatanya kehidupan ini kita sendiri yang bangun, semoga mimpi kita sempurna dan tidak seperti orang biasa.

Ilmu bagi-ku adalah benda-benda candu
Jika kau tak tahu
Kau menjadi benda semu
Mati terbakar dan menjadi abu

Bukan begitu maksudku
Aku hanya ingin kau tahu
Ilmu jangan kau bungkam melulu