Sunday, January 26, 2020

Mengapa dilupa / Lalu bisa apa

Tarian hujan di balik cemara hijau pucat
Meniadakan persembunyian dari tabiat
Menutupi kebohongan dengan bertobat
Sikapnya merusak adat istiadat

Katakan sedikit jangan sering
Sirami jangan sampai kering
Jangan sesekali kau petik atau sentuh
Tanaman disana ingin tumbuh

Sering kali berkaca tapi lupa diri
Coretan dinding menjadi tempat ekspresi
Memilih jalan kaki untuk pergi
Menggunakan banyak tranportasi sebagai alat ekspedisi

Tuesday, January 14, 2020

Tenang-sekarang

Jangan salahkan jika dunia tidak berpihak pada mu

Jangan salahkan jika orang-orang berpaling dari mu

Janngan salahkan dunia dan semesta tidak menginginkan mu

Apa kah kau tahu?!

Karena alam raya telah menjelma menjadi aku


Merasa senang

Menghilang dari tenang

Memberi tanpa merasa kurang

Menikmati tanpa harus kalah bersaing


Memang kita berhak untuk bertindak

Mengapa dilupa

Lalu bisa apa?

Seperti itulah kita beranjak


Menemukan hal baru

Mengudara tanpa kata

Mengecap tanpa rasa

Seperti itulah bertamu


Lumpur di kaki mulai mengering

Ranting-ranting mulai menguning

Tunas baru siap berkembang

Untuk melawan angin yang lebih kencang




Saturday, January 11, 2020

Foto Selfie di Kamar Mandi Bikin Lupa Diri


Izinkan saya menjamah dan bercerita tentang mu melalui sebuah tulisan, terderdangar mustahil untuk diterima setelah bertemu seorang gadis lucu yang baru saja beranjak dewasa, saya tak pernah gundah walau percuma. Tetap saja ada Rasa!

Sudah dapat diketahui bahwa apa yang saya sampaikan dan saya lakukan sampai saat ini tidak pernah sia-sia, walau dibumbui oleh rasa kecewa. Bagi saya ini bukan sebuah alasan untuk saya tidak cinta pada diri saya sendiri.

Saya lelaki kecil berhak bahagia atas menantang hidup, seakan hari ini langit, bulan, bintang dan hewan malam menjelma sebagai teman yang baik. Jauh di bawah sini menemani saya bercerita suatu saat pasti apa yang kau ingin kan kembali.

“Apa kabarmu?” Bodoh masih bertanya kabar!
Kau begitu monoton, tinggalkan. Dia sudah tak baik.
Bintang dan Bulan seakan bercerita bahwa manusia di bumi ini lucu-lucu dan menarik, tiba-tiba langit bergemuruh gerimis turun. Hewan malam itu patuh masuk kedalam tempat peersembunyiannya masing-masing.

Saya dari kejauhan mengamatinya.

Melihat gadis lucu itu mengutuk diri, menutup, dan mencari perlindungan
Meminta dan bercerita tak sesuai dengan arahanya
Teman menjadi tameng
Besoknya gadis itu menghilang, bersama bayang-bayang kebohongan

Nyatanya saya bisa berhasil melewati fase kegelisahan ini dengan cara bertualang dengan kawan-kawan saya ke kota Bandung, saya bisa lebih bebas bertualang main ke Hutan.

Saya menjamah Hutan yang sepi penuh elegi
Saya menemukan arti dikala sunyi
Langkah saya patah seperti dipatri
Menghindari batu-batu bergerigi tak bertepi
Syukurlah kaki-kaki ini tahu untuk pergi kembali

Menemukan nama-nama yang saya suka, saya abadikan pada sebuah kamera digital lalu saya simpan dalam bentuk album digital. Buat kenangan, walau sekarang sudah menjadi almarhum dalam-dalam.