Thursday, August 24, 2017

[PENGEMBARA] Sepenggal Kisah Sumatra untuk Nusantara

Dokumentasi Pelepasan Pengembaraan oleh humas KMPA Eka Citra
Dari kiri ke kanan
Evi, Hamdan, Rama, Indra, Ade, Sarita, Dina, Aulia, Dian, Arinta, Saya, Shuban, Brian, Fahmi

         Biar kami jelaskan apa tujuan utama melakukan perjalanan ini, untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air setiap manusia dapat mengenal dengan cara melihat dan menyentuh pada obyeknya langsung, pada dasarnya suatu obyek tidak hanya indah dilihat dari luar saja, dengan demikian keindahan obyek bisa dilihat dari dalam. Maka itu kami naik Gunung,  dan masuk masuk Gua. Tidak sekedar perjalan bakti pendidikan tidak kami lupakan.


Ekspedisi Citra Bestari diketuai oleh Brian Chafariz Nursidiq. Ekspedisi terbagi menjadi dua tim, tim satu melakukan pendakian Gunung Leuser yang berada di Provinsi Aceh, dengan Brian Chafariz Nursidiq sebagai ketua tim, Arinta Eka Desti Mustika, Rachmadina Tri Kencana, Fahmi Rifa Maulana, Maulida Ramandhika, serta Nugroho Adi Saputra sebagai pendamping. 

Tim dua melakukan penelusuran Gua kawasan karst Krui di Desa Pahmungan Provinsi Lampung dengan Aulia Septiyaningrum sebagai ketua tim, Ade Irna Sumantri, Dian Mardiana, Evi Herawati, Hamdan Fauzi, Ihab Yazid, Indra Komara, Sarita Wahyu Budiwati, Subhan Paldana Putra, serta Mardhika Ekaputra sebagai pendamping.

Tim dua berada di Desa Pahmungan, Sabtu 12 Agustus 2017 sudah berada di rumah Peratin (kepala desa) sebutan dari orde lama yang masih digunakan sampai saat ini, hari berikutnya ditemani Pemangku (kepala dusun) mencari sebaran mulut gua setempat, selama satu pekan dengan sembilan orang Anggota Muda bersama satu orang Pendamping membangun shelter (tempat perlindungan) di hutan damar yang berdekatan dengan aliran Way (sungai) Ngison Linuk, satu minggu pertama kelompok melakukan eksplorasi dan pemetaan Gua Buyung, Gua Tenuk, Gua Taigara, dan Gua Kubu. Pada hari Kamis, 17 Agustus 2017 kelompok melakukan pengibaran bendera sang saka merah putih di Gua Buyung. Sabtu, 19 Agustus 2017 Gua Buyung telah terpetakan. Hari Senin – Selasa, 21 – 22 Agustus 2017 kelompok melakukan penambahan pemetaan di Gua Kungki dan Gua Ramdo. Dari seluruh hasil eksplorasi kami menemukan gua sebagai tempat tinggal dan berkembang biak hewan seperti udang, ular, kodok, kelelawar, kelabang, jangkrik, dan burung walet.

--
"TANTANGAN TIDAK PERNAH DI TURUNKAN!
SATU KALI MELANGKAH PANTANG BAGI KAMI UNTUK MUNDUR"
--

Dari pemetaan enam gua yang dilakukan tim telah memperoleh data maping sebanyak 2.085 meter2 panjang keseluruhan gua dalam kurun waktu sembilan hari. Hari-hari berikutnya Rabu, 23 Agustus 2017 tim dua melakukan sosial pedesaan untuk mencari informasi adat istiadat Desa Pahmungan (berbagai sumber). Awal nama Pahmungan tercipta karena pertemuan antara dua hilir sungai bagian utara Way (sungai) Ngison Balak, dengan bagian selatan aliran Way (sungai) Mahnai Lunik, pertemuan antara dua hilir sungai disebut dengan Permong sebutan orang tua terdahulu atau nenek moyang di tahun 1900, singkat cerita untuk mempermudah ucapan masyarakat merubahnya menjadi Pahmungan.

Masyarakat Pahmungan hidup dengan bercocok tanam di repong (kebun), sebagianutama pencarian warga dengan menyadap resin(getah) pohon damar, penyadapan resin (getah) damar apabila telah terbentuk gumpalan kristal. Untuk mengulang penyadapan petani damar bisa menyadap kembali dengan tempo paling cepat dua minggu dan satu bulan lamanya. Sambil menunggu penyadapan biasanya masyarakat sekitar dengan me-repong tumbuhan musiman seperti petai, durian, duku, nangka dansebagian mengolah persawahan. Sebab repong damar itu sendiri tidak banyak membutuhkan perlakuan khusus dari petani, hanya saja adanya kontroling untuk melihat banyak resin yang keluar.

Berbeda dengan asal muasal terbentuk nama Kota Krui (berbagai sumber) masyarakat ada yang mengatakan karena banyaknya hidup sekumpulan kera, akan tetapi lapisan masyarakat lain menolak keras sebab tidak sesuai dengan kenyataan “desa ini ditumbuhi dengan tumbuhan berduri”. Maka dari itu untuk lebih tepat sebutan nama daerah Krui ini karena banyaknya tumbuhan berduri. Inilah pelbagai asumsi yang telah tumbuh di masyarakat sekitar, apa pun paradigma yang tumbuh kita cukup menghargai dengan  menjaga kelestarian dan kerukunan masyarakat sekitar, betapa indahnya pembangunan desa ini mereka melakukan dengan cara bergotong royong, contoh sederhana mereka membangun pelebaran jalan dan pembentukan jembatan untuk masjid. Anjing-anjing peliharaan seakan teman yang baik untuk berkebun, lolongan suara kera adalah nyanyian semesta, gemercik aliran sungai ibarat keteduhan alam semesta. Adakah yang lebih kentara dari itu semua?

Kita sebagai manusia hanya bisa menghimbau dan menjaganya, kelak ketika kita menua anak dan cucu-cucu bisa menjamah. Berikutnya hari Kamis, 24 Agustus 2017 tim dua melakukan bakti pendidikan di SD Negeri Pahmungan materi yang kami isi berupa Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan cinta tanah air sasaran kami adalah kelas enam terdiri dari kelas enam A – B di mana seluruh materi yang diberi untuk merangsang umur belasan yang sebentar akan beranjak remaja umur ini adalah era keemasan untuk buah pikir yang baik. 

Ketika seorang kakak bertanya pada murid, bagaimana bentuk  sederhana kita mencintai tanah air Indonesia? Beberapa murid ada yang menjawab dengan; membantu orang tuaberkebun, belajar dengan tekun, dsb. Rehan murid kelas enam A yang dewasa kelak ingin menjadi seorang Guru menjawab dengan lugas “Kita mencintai tanah air dengan cukup membeli produk dalam negeri”, cukup jujur dan lembut untuk ungkapan yang telah dilontarkan dari murid Sekolah Dasar Negeri Pahmungan ini. 

Usai istirahat sekolah dilanjut dengan materi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), di mana setiap kelas dibuat menjadi beberapa kelompok, dari beberapa kelompok tersebut bertumpah ruah menjadi antusias yang tak terbendung, mereka diajar untuk berdiskusi, menganalisis suatu benda, menarik kesimpulan dan apa yang telah didiskusikan setiap kelompok menulisnya kembali di kertasmateri.

Pagi, Jumat 25 Agustus 2017 jam 08.35 WIB timduamelakukanolahragabersama di SD Negeri Pahmungan dilanjut dengan lomba mewarnai selama 45 menit, istirahat dimulai kembali jam 10.05 WIB dilanjut dengan kegiatan outbound tujuan kegiatan ini untuk melatih kekompakan murid-murid dan mengenal kemampuan dan kelemahan personal di mana setiap kelompok terdiri dari kelas lima sampai enam Sekolah Dasar, mereka lebih cepat adapatasi. oubound di akhiri jam 11.10 WIB sekaligus pemberian hadiah lomba mewarnai.

Rupanya waktu begitu dinamis sudah 14 hari berada di pekon pahmungan, tidak ada isak tangis. Hanya saja sedikit pesimis selama dua minggu kami berada di tanah Sumatra apakah ada manfaat untuk masyarakatnya. Minggu 27 Agustus 2017 kami sampai di Jakarta, pulang membawa data dan siap untuk di olahnya.

Jakarta, 30 Agustus 2017
Ihab Yazid
Sewaktu Menjadi Anggota Muda

No comments:

Post a Comment