Tuesday, June 04, 2019

ALMARHUM BERKEMBANG MENJADI ALBUM


Izinkan saya menjamah dan bercerita melalui tulisan-tulisan ini meski saya tahu, ini mustahil untuk diterima setelah bertemu seorang gadis yang baru saja beranjak dewasa, saya tak pernah gundah walau percuma. Tetap saja ada Rasa!
Sudah dapat diketahui bahwa apa yang saya sampaikan dan saya lakukan sampai saat ini tidak pernah sia-sia, walau dibumbui oleh rasa kecewa. Bagi saya ini bukan sebuah alasan untuk saya tidak cinta pada diri saya sendiri.
Saya lelaki kecil berhak bahagia atas menantang hidup, seakan hari ini langit, bulan, bintang dan hewan malam menjelma sebagai teman yang baik. Jauh di bawah sini menemani saya bercerita suatu saat pasti apa yang kau ingin kan kembali.
“Apa kabarmu?” Bodoh masih bertanya kabar! Kau begitu monoton, tinggalkan. Dia sudah tak baik.
Bintang dan Bulan seakan bercerita bahwa manusia di bumi ini lucu-lucu dan menarik, tiba-tiba langit bergemuruh gerimis turun. Hewan malam itu patuh masuk kedalam tempat peersembunyiannya masing-masing.
Saya dari kejauhan mengamatinya.

“Wahai Vania, Afika, dan Gita”
“Lama tak berjumpa” “Apa kita dapat sejiwa walau tak bersama”
Saya sedang tidak peduli dengan hari ini, seperti lelucon konyol yang terdapat di Sinetron F-TV yang tak kaya gizi. Nyatanya saya bisa berhasil melewati fase kegelisahan ini dengan cara bertualang dengan kawan-kawan saya ke kota Bandung, saya bisa lebih bebas bertualang main ke Hutan.

Saya menjamah Hutan yang sepi penuh elegi
Saya menemukan arti dikala sunyi
Langkah saya patah seperti dipatri
Menghindari batu-batu bergerigi tak bertepi
Syukurlah kaki-kaki ini tahu untuk pergi kembali

Menemukan nama-nama yang saya suka, saya abadikan pada sebuah kamera digital lalu saya simpan dalam bentuk album digital. Buat kenangan, walau sekarang sudah menjadi almarhum dalam-dalam.

No comments:

Post a Comment