Izinkan saya menjamah dan bercerita melalui tulisan-tulisan
ini meski saya tahu, ini mustahil untuk diterima setelah bertemu seorang gadis
yang baru saja beranjak dewasa, saya tak pernah gundah walau percuma. Tetap
saja ada Rasa!
Sudah dapat diketahui bahwa apa yang saya sampaikan dan saya
lakukan sampai saat ini tidak pernah sia-sia, walau dibumbui oleh rasa kecewa.
Bagi saya ini bukan sebuah alasan untuk saya tidak cinta pada diri saya
sendiri.
Saya lelaki kecil berhak bahagia atas menantang hidup, seakan
hari ini langit, bulan, bintang dan hewan malam menjelma sebagai teman yang baik.
Jauh di bawah sini menemani saya bercerita suatu saat pasti apa yang kau ingin
kan kembali.
“Apa kabarmu?” Bodoh masih bertanya kabar! Kau begitu
monoton, tinggalkan. Dia sudah tak baik.
Bintang dan Bulan seakan bercerita bahwa manusia di bumi ini
lucu-lucu dan menarik, tiba-tiba langit bergemuruh gerimis turun. Hewan malam
itu patuh masuk kedalam tempat peersembunyiannya masing-masing.
Saya dari kejauhan mengamatinya.
“Wahai Vania, Afika, dan Gita”
“Lama tak berjumpa” “Apa kita dapat sejiwa walau tak bersama”
Saya sedang tidak peduli dengan hari ini, seperti lelucon
konyol yang terdapat di Sinetron F-TV yang tak kaya gizi. Nyatanya saya bisa
berhasil melewati fase kegelisahan ini dengan cara bertualang dengan
kawan-kawan saya ke kota Bandung, saya bisa lebih bebas bertualang main ke
Hutan.
Saya menjamah Hutan yang sepi penuh elegi
Saya menemukan arti dikala sunyi
Langkah saya patah seperti dipatri
Menghindari batu-batu bergerigi tak bertepi
Syukurlah kaki-kaki ini tahu untuk pergi kembali
Menemukan nama-nama yang saya suka, saya abadikan pada
sebuah kamera digital lalu saya simpan dalam bentuk album digital. Buat
kenangan, walau sekarang sudah menjadi almarhum dalam-dalam.
No comments:
Post a Comment