Thursday, September 21, 2017

Urgensi Pendidikan Kewarganegaraan

Disini saya mencoba berangan-angan dengan kutipan bung Karno, sembari saya menyeruput segelas kopi hangat yang sebentar lagi akan dingin. Sewaktu remaja saya pernah di beri buku oleh kaka wanita yang saya lupa judulnya buku ini edisi harian terbitan tempo, yang saya ingat isinya beberapa tulisan pesan-pesan dari beberapa pemipin Indonesia, mereka meminta kepada pemuda/i untuk turut sumbangsih membangun suatu peradaban Indonesia yang lebih baik.

Picture from google

Dewasa-dewasa ini mungkin kita masih bertanya-tanya pada diri sendiri bagaimana kita sebagai mahasiswa/i untuk berkontribusi pada negeri sendiri, coba kita tarik pelan-pelan benang merah. Jika idealnya kita sebagai mahasiswa bisa menempatkan pada bidangnya masing-masing di keilmuannya, mahasiswa tersebut bisa menjalankan peran pada posisi yang telah di pilihnya.

"Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.” - Soe Hok Gie

Sekarang kopi di gelas sudah mulai dingin, saya coba utarakan kutipan Gie yang sebelum menjelang kematiannya akibat menghirup zat beracun di gunung semeru, walaupun seorang pemuda kelahiran tionghoa pemuda ini seorang nasionalis yang menjunjung tinggi nilai-nilai norma kemanusiaan.
Saya coba rasakan dan resapi kutipaan di atas, sebetulnya bukan dari mana kita berasal namun bagaimana kita sebagai manusia merubah paradigma dalam hidup, menyikapi pergulatan hidup yang begitu dinamis, semoga ini yang disebut romantisme cinta tanah air.

Thursday, August 24, 2017

[PENGEMBARA] Sepenggal Kisah Sumatra untuk Nusantara

Dokumentasi Pelepasan Pengembaraan oleh humas KMPA Eka Citra
Dari kiri ke kanan
Evi, Hamdan, Rama, Indra, Ade, Sarita, Dina, Aulia, Dian, Arinta, Saya, Shuban, Brian, Fahmi

         Biar kami jelaskan apa tujuan utama melakukan perjalanan ini, untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air setiap manusia dapat mengenal dengan cara melihat dan menyentuh pada obyeknya langsung, pada dasarnya suatu obyek tidak hanya indah dilihat dari luar saja, dengan demikian keindahan obyek bisa dilihat dari dalam. Maka itu kami naik Gunung,  dan masuk masuk Gua. Tidak sekedar perjalan bakti pendidikan tidak kami lupakan.

Tuesday, February 28, 2017

Mahasisa tak pernah sia-sia

Sudah banyak hari-hari terlewat  terlalu berat rasanya jika saya pribadi tidak dapat mengatur waktu sedimikian rupa, banyak yang hilang, banyak yang terbuang khawatir pada hidup jika hanya kehampaan yang tak berarti. Lama tidak bacapun saya sadar sejarah terus berubah dengan dinamis.

Belakangan ini saya merasa kesepian padahal banyak sahabat-sahabat, keluarga yang selalu setia menemani, seperti ada yang salah pada sifat saya saat ini atau mungkin saya sedang butuh menyendiri.
Adakah yang dapat membuat saya lebih baik dari ini?

Keresahan membawa saya jauh untuk berpikir, bagaimana caranya menolak bersifat alot dalam bertindak, telah saya temukan dalam kesendirian, kegelisahan, keresahan, dan kemunafikan dalam hidup. Saya bercita-cita tinggi pada manusia yang telah peduli terhadap kebenaran tentang hidup, menolak kekerasan dan diskiriminasi atas nama apapun, menghargai asas kemanusian. Wahai rekan-rekan sekalian bisakah kalian meresakan ketiadaan begitu mendalam dari beban peradaban.

Manusia seperti ini tidak ada lagi, mereka telah mati dibumbui oleh rasa benci. 


- Terputus belum di input -