Saturday, June 06, 2020

Rentetan Waktu

Masa lalu merupakan era gelora penuh dinamis, romantis, penuh pesona, dan cinta.
Masa sekarang adalah dekade kelam, saya hampir tidak percaya bahwa masa lalu dapat saya lalui dan begitu manisnya :)

Ini waktunya untuk saya, kamu, dan kita untuk memperbaiki apa yang telah rusak dan hilang. Tidak membenarkan bahwa dengan cara rebahan mendapat apa yang kita inginkan, apakah dengan begitu mereka akan datang. Beda hal lain jika rebahan menyusun satu-persatu perencanaan dengan penuh keyakinan, tercapailah kita. Semoga!

Masa lalu sudah berlalu
Rindu memupuk tak menentu
Biar manusia manapun tahu
Kita bukan saling tunggu atau siapa yang paling dulu
Sekarang sedang apa dan bagaimana jadinya
Yakin ingin menunda? Jika memang yakin
Mohon ingat waktu, ini sudah cukup menunda hingga tidak dirasa
Sudah meninggalkan banyak jeda karena tidak ada rencana

Harapan bukan pepesan ikan kosong dengan sejuta rempah-rempah di dalamnya, jika rempah-rempah itu tidak pernah ada apa yang ingin dirasa, seperti itulah harapan perlu diisi dengan berbagai macam perencanaan, dengan begitu harapan terasa nikmatnya

Jakarta, 6 Juni 2020

Ihab Yazid

Tuesday, May 12, 2020

Apakah pandemi masih ada?

Mereka lari kerumah masing-masing mengasingkan diri, mencari banyak informasi
Tempat-tempat umum diserang sepi
Mereka berada pada tembok-tembok tak bertepi diputuskan oleh jarak,
di dekatkan dengan koneksi jaringan, sekarang jaringan mana yang mampu bertahan lama
Ruang-ruang kelas
Tempat-tempat ibadah telah lama sepi
Sudah satu bulan lamanya tidak ada yang mengisi
Mendekatkan diri dengan Tuhan dengan caranya masing-masing,
tidak perlu diperdebatkan ini hanya sebuah ujian
Temukan kualitas keyakinan yang kamu miliki sekarang
Apakah benar bawaan lahir, atau hanya sebuah titipan
Mari coba sejenak berdiam diri lebih lama dari biasanya,
temukan pribadi mu yang  telah lama hilang dari sini dari rumah jangan menyerah, lautan di samudra tidak akan tertukar dengan lembah di gunung, tidak ada suara-suara kencang terdengar dari luar
Hanya suara lembut dari hati sedang mempertanyakan 
Apakah keyakinan milik mu hanya sebuah titipan?

Tuesday, May 05, 2020

Ada Apa Dengan Corona "AADC"

Bagaimana berlama-lama di rumah, sudah berapa jauh meninggalkan atau tidak komunikasi sama sekali dengan orang-orang yang lama kau tinggal pergi seperti Ayah, Ibu, Kakak, dan Adik tercinta.

Mungin ini waktunya untuk kita, aku, dan kamu untuk kembali bertukar kasih dan membagikan cerita hal lucu diluar sana ketika jauh dari rumah, bahwa kita butuh mereka. Pasti kau pernah merasa sepi, dan ingin kembali. Sekarang menjadi kenyataan dan berdekatan.

Mencoba menceritakan dongeng sebelum tidur, merawat taman-taman di depan teras rumah yang mulai layu, membuka album-album foto waktu kecil. Mendesak untuk membersihkan lingkungan rumah, dan setia saling bantu. Mari melepas kepenatan di luar sana dengan gotong royong di rumah dengan begitu kita sedang merawat keharmonisan keluarga. Ucapkan syukur kini cinta sesungguhnya, jauh disana, dekat disini dirumah ini kita kembali.

Selamat menikmati!

Monday, April 06, 2020

Penting-Nya Merawat diri Sendiri


Sebagian orang sadar, sedang berada pada hubungan yang salah dan berdalih bahwa yang pergi dapat kembali. Jangan cepat berharap, coba ubah pandangan hal itu..

“Yang pergi akan diganti, ketika kau merasa sepi”

Apakah hal tersebut baik? Belum tentu!

Saya bangga kepada manusia yang dapat mengatasi masalah hidupnya tanpa meratapi berlarut-larut, evaluasi ketika sendiri. Tahan kritik ketika di hardik, bagi saya manusia tersebut menarik.
Tak menunjukkan ancaman serius.
Tetap tenang meski dalam posisi tertekan.

Sunday, March 08, 2020

Pemilik Kebun


Ladang di sana kering tak berair
Tanahnya pecah merekah
Sebab kenapa tukang kebun memilih
Supaya mudah untuk ditanam

Usahanya tak pernah mati
Meski ia sendiri
Disirami tanah itu setiap hari
Dalam benak ada sesuatu yang dapat terjadi

Disemai bibit itu pada tanah
Berharap tumbuh rempah-rempah

Ada yang tumbuh lalu hilang
Tukang kebun sudah lupa
Bahwa bibit yang ditanam adalah hasil dari curian
Karena tanah ini tak bertuan

Tuesday, February 04, 2020

Malam di Braga

Bandung, 

Di sudut kota ketika lelah mulai membungkam
Tepat di sudut pemberhentian parkir roda empat itu
Terlihat sepi meski larut malam
Kau lebih memilih menutup pintu

Dari Asia Afrika, Alun-alun, Masjid Raya dan Jalan Braga
Lampu kendara seraya berkata
Menembus hening sunyi kota Bandung
Duduk di bangku trotoar 
Rehat sebentar lalu menghilang

Sampah plastik menggulung bagai ombak
Tidak banyak
Tersapu angin 
Malam mulai dingin

Di kendaraan roda empat ini
Aku melihat dua gadis berselisih paham
Melempar perntanyaan tak kunjung usai
Aku hanya memperhatikan dalam diam
Kendaraan melaju cepat


Sunday, January 26, 2020

Mengapa dilupa / Lalu bisa apa

Tarian hujan di balik cemara hijau pucat
Meniadakan persembunyian dari tabiat
Menutupi kebohongan dengan bertobat
Sikapnya merusak adat istiadat

Katakan sedikit jangan sering
Sirami jangan sampai kering
Jangan sesekali kau petik atau sentuh
Tanaman disana ingin tumbuh

Sering kali berkaca tapi lupa diri
Coretan dinding menjadi tempat ekspresi
Memilih jalan kaki untuk pergi
Menggunakan banyak tranportasi sebagai alat ekspedisi

Tuesday, January 14, 2020

Tenang-sekarang

Jangan salahkan jika dunia tidak berpihak pada mu

Jangan salahkan jika orang-orang berpaling dari mu

Janngan salahkan dunia dan semesta tidak menginginkan mu

Apa kah kau tahu?!

Karena alam raya telah menjelma menjadi aku


Merasa senang

Menghilang dari tenang

Memberi tanpa merasa kurang

Menikmati tanpa harus kalah bersaing


Memang kita berhak untuk bertindak

Mengapa dilupa

Lalu bisa apa?

Seperti itulah kita beranjak


Menemukan hal baru

Mengudara tanpa kata

Mengecap tanpa rasa

Seperti itulah bertamu


Lumpur di kaki mulai mengering

Ranting-ranting mulai menguning

Tunas baru siap berkembang

Untuk melawan angin yang lebih kencang




Saturday, January 11, 2020

Foto Selfie di Kamar Mandi Bikin Lupa Diri


Izinkan saya menjamah dan bercerita tentang mu melalui sebuah tulisan, terderdangar mustahil untuk diterima setelah bertemu seorang gadis lucu yang baru saja beranjak dewasa, saya tak pernah gundah walau percuma. Tetap saja ada Rasa!

Sudah dapat diketahui bahwa apa yang saya sampaikan dan saya lakukan sampai saat ini tidak pernah sia-sia, walau dibumbui oleh rasa kecewa. Bagi saya ini bukan sebuah alasan untuk saya tidak cinta pada diri saya sendiri.

Saya lelaki kecil berhak bahagia atas menantang hidup, seakan hari ini langit, bulan, bintang dan hewan malam menjelma sebagai teman yang baik. Jauh di bawah sini menemani saya bercerita suatu saat pasti apa yang kau ingin kan kembali.

“Apa kabarmu?” Bodoh masih bertanya kabar!
Kau begitu monoton, tinggalkan. Dia sudah tak baik.
Bintang dan Bulan seakan bercerita bahwa manusia di bumi ini lucu-lucu dan menarik, tiba-tiba langit bergemuruh gerimis turun. Hewan malam itu patuh masuk kedalam tempat peersembunyiannya masing-masing.

Saya dari kejauhan mengamatinya.

Melihat gadis lucu itu mengutuk diri, menutup, dan mencari perlindungan
Meminta dan bercerita tak sesuai dengan arahanya
Teman menjadi tameng
Besoknya gadis itu menghilang, bersama bayang-bayang kebohongan

Nyatanya saya bisa berhasil melewati fase kegelisahan ini dengan cara bertualang dengan kawan-kawan saya ke kota Bandung, saya bisa lebih bebas bertualang main ke Hutan.

Saya menjamah Hutan yang sepi penuh elegi
Saya menemukan arti dikala sunyi
Langkah saya patah seperti dipatri
Menghindari batu-batu bergerigi tak bertepi
Syukurlah kaki-kaki ini tahu untuk pergi kembali

Menemukan nama-nama yang saya suka, saya abadikan pada sebuah kamera digital lalu saya simpan dalam bentuk album digital. Buat kenangan, walau sekarang sudah menjadi almarhum dalam-dalam.

Sunday, December 15, 2019

Kontemplasi Omong Kosong!


Januari – Bagian I

Hujan di ibu kota
Jalan raya di sudut trotoar masa tahun baru
Terpancar bias cahaya lampu jalan itu
Angin menyapu keras kesunyian pukul satu

Deru suara motor tidak terdengar lagi
Yang ada hanya suara hujan
Suaranya lembut
Dan dingin

Segelas cangkir teh hangat
Satu sendok teh gula pasir saya tuangkan
Minuman itu tidak kunjung saya minum

Saya hampir tenggelam
Pagi pagi sekali saya bangun
Saya diselamatkan oleh Tuhan
Ternyata awal tahun adalah sebuah peringatan


Februari - Bagian II

Adakah hasil dari yang disembunyikan
Jawabnya ada
Jika kau masih bertanya-tanya
Tandanya
Kau sedang kehilangan

Monday, November 25, 2019

Jakarta-Bandung Belum Terkoneksi (TOL CIKAMPEK)

Menemukan mu diwaktu-waktu rawan,
nyatanya itu menyenangkan
Sebagaian orang menilainya gila
Atau mungkin tak laik guna

Saya dapati matanya kunang-kunang bersinar
Saya tanya apa kau ini seorang peri?
Dia tersipu malu dan pergi
Ternyata sudah ada kucing mengintai

Waktu-waktu tertentu kota ini dapat berubah 
Menjadi dingin dan hangat
Dapat berubah menjadi lebih lembut
Tanpa merusak yang angkuh

Saya di taman ini seorang diri menikmati soal kesunyian
Menunggu sebuah jawaban, dengan pertanyaan yang tak sempat saya sampaikan
Ada yang datang hanya untuk singgah
Ada yang pergi tanpa mengucap permisi
Ada yang meminta tanpa memberi
Dan ada yang berharap, esoknya tak pernah kembali

Saturday, October 05, 2019

Disisi Lain Pejalan

Oktober

Menemukan jalan-jalan yang terjal dan berbatu
Ini bukan pilihan
Kenyataannya seperti itu
Mau tidak mau perlu dihadapi

Jika sekali berbalik arah yang kau temu hanyalah jurang
Nikmatilah...
Mungkin jalan-jalan berikutnya landai dan berkelok
Atau bisa jadi sebuah tanjakan menemukan keberanian hidup

Sunday, September 08, 2019

Menghela Nafas

September

Mengerti, memahami, mengevaluasi
Jangan berlari terlalu cepat
Jika jalan yang kau lalui ternyata salah
Sini kembali

Duduk sebentar
Jangan terlalu lama
Karena di depan ada yang menunggu mu
Sudah menanti sejak lama

Hei!
Perjalanan kamu baru saja dimulai
Pergerakan tidak hanya sampai disini

Berdiri
Melangkahlah kemana kau suka
Disanalah kita berjumpa

Sunday, August 25, 2019

Hampir Habis

Agustus

Segera lulus!
Penelitian dan tulisan segera selesaikan
Bukankah ini suatu pemaksaan?
Tidak!
Lalu?

Hanya saja kalimat itu kurang persuasif
Lantas siapa yang mengjak?
Pada dirimu lah kau bergerak

Saturday, July 20, 2019

Belum Menentukan

Juli

Kita ini manusia penuh cinta
Nafsu hanya sisa
Bagaimana bisa?
Hanya main mata dia terpesona

Ahh gila...

Kau telah berdusta
Terlalu banyak menyimpan rasa

Monday, June 17, 2019

Cendra Mata dan Sebuah Tanya dari Jogja

Juni

Kamu niat, kamu bersemangat
Cendra mata yang kau bawa
Sekarang sudah saya terima
Meninggalkan tanda tanya

Batu yang kau beri
Ini gunanya untuk apa?

Jawabnya hilang 
Desing kendaraan begitu kencang

Tuesday, June 04, 2019

ALMARHUM BERKEMBANG MENJADI ALBUM


Izinkan saya menjamah dan bercerita melalui tulisan-tulisan ini meski saya tahu, ini mustahil untuk diterima setelah bertemu seorang gadis yang baru saja beranjak dewasa, saya tak pernah gundah walau percuma. Tetap saja ada Rasa!
Sudah dapat diketahui bahwa apa yang saya sampaikan dan saya lakukan sampai saat ini tidak pernah sia-sia, walau dibumbui oleh rasa kecewa. Bagi saya ini bukan sebuah alasan untuk saya tidak cinta pada diri saya sendiri.
Saya lelaki kecil berhak bahagia atas menantang hidup, seakan hari ini langit, bulan, bintang dan hewan malam menjelma sebagai teman yang baik. Jauh di bawah sini menemani saya bercerita suatu saat pasti apa yang kau ingin kan kembali.
“Apa kabarmu?” Bodoh masih bertanya kabar! Kau begitu monoton, tinggalkan. Dia sudah tak baik.
Bintang dan Bulan seakan bercerita bahwa manusia di bumi ini lucu-lucu dan menarik, tiba-tiba langit bergemuruh gerimis turun. Hewan malam itu patuh masuk kedalam tempat peersembunyiannya masing-masing.
Saya dari kejauhan mengamatinya.

“Wahai Vania, Afika, dan Gita”
“Lama tak berjumpa” “Apa kita dapat sejiwa walau tak bersama”
Saya sedang tidak peduli dengan hari ini, seperti lelucon konyol yang terdapat di Sinetron F-TV yang tak kaya gizi. Nyatanya saya bisa berhasil melewati fase kegelisahan ini dengan cara bertualang dengan kawan-kawan saya ke kota Bandung, saya bisa lebih bebas bertualang main ke Hutan.

Saya menjamah Hutan yang sepi penuh elegi
Saya menemukan arti dikala sunyi
Langkah saya patah seperti dipatri
Menghindari batu-batu bergerigi tak bertepi
Syukurlah kaki-kaki ini tahu untuk pergi kembali

Menemukan nama-nama yang saya suka, saya abadikan pada sebuah kamera digital lalu saya simpan dalam bentuk album digital. Buat kenangan, walau sekarang sudah menjadi almarhum dalam-dalam.

Wednesday, May 15, 2019

Belum Berakhir

Mei

Tulislah
Lalu buka catatan-catan lama
Dengan begitu kau dapat ingat
Bahwa masa lalu itu begitu cepat

Sadarlah
Bahwa menyayangi diri sendiri itu perlu
Kemari sayang
Sebut itu pada dirimu

Percayalah
Kau baik-baik saja
Hanya perlu istirahat

Sunday, April 07, 2019

Belum terlihat

April

Satu dari empat pilar sudah behasil
Lima pilar sedang sama-sama bergerak
Tidak saling tunjuk
Tiba-tiba semua terwujud

Wednesday, March 13, 2019

Belum menemukan

Maret

Meningkat lalu menurun
Itu semangat
Kembalikan semangat saya
Ini!

Tiba-tiba semangat pergi
Jangan dicari

Lalu?

Semangat telah kau miliki
Dimana?
Ambil cermin, bercerminlah
"Semangat itu hadir"